Dalam
masyarakat Toraja, tarian dan musik termasuk salah satu budaya yang
tinggi nilainya. Cukup banyak jumlah tarian yang sering dipagelarkan
bila diadakan upacara Rambu Tuka dan Rambu Solo.
Tarian Toraja
1. Tarian Ma’gellu
Tarian
ini paling populer, ditarikan oleh para remaja putri pada upacara
kegembiraan seperti pada pesta panen, pesta perkawinan, dan untuk
menyambut tamu. Penarinya tiga orang, lima orang atau lebih. Pakaian
penari ialah pakaian khusus penari dan benda-benda perhiasan emas yang
antik.
2. Tarian Pa’Bonebala’
Tarian
ini hampir sama dengan tarian Pa’gellu, hanya rytme gendangnya
berlainan dan lagu khusus yang dinyanyikan sementara menari.
3. Tarian Dao Bulan
Tarian
ini juga ditarikan oleh para remaja putri dan dimainkan secara massal
pada upacara-upacara, pesta panen, menyambut tamu, dan sebagainya.
4. Tarian Ma’dandan
Tarian
ini ditarikan oleh wanita-wanita yang berpakaian putih-putih memakai
sa’pi’ (hiasan kepala) yang menyerupai atap depan rumah. Mereka bergerak
lemah lunglai menggoyangkan tongkat mengikuti irama tari dan nyanyian.
Maka'’dandan ini ditarikan pada upacara rambu tuka’ untuk pesta panen
dan pesta syukuran lainnya.
5. Tarian Manimbong
Tarian
ini ditarikan oleh beberapa orang pria yang memakai kain adat maa’ dan
mempergunakan parang-parang antik dan ikat kepala yang tebuat dari
bulu-bulu ayam atau bulu burung lainnya. Biasanya ditarikan pada pesta
yang menghormati dewata misalnya pesta panen atau pesta rumah.
6. Tarian manganda
Tarian
ini dibawakan oleh satu kelompok laki-laki yang mempergunakan tanduk
kerbau di kepala yang dihiasi uang logam. Penari-penari mempergunakan
bel kecil yang selalu berdering-dering diselingi teriakan yang
mengagetkan penonton. Tarian ini hanya ditarikan pada pesta adat yang
besar.
7. Tarian pa’bondesan
Penari-penari
laki-laki tidak memakai baju kecuali selama adat khusus. Penari memakai
kuku tiruan yang disebut kuku setan. Tarian ini diiringi dengan suling.
8. Tarian Memanna
Tarian
ini khusus ditarikan pada upacara penguburan orang mati karena dibunuh.
Penarinya dari laki-laki yang menakutkan dengan berpakaian
compang-camping dari tikar robek, ikat kepala dari rumput padang-padang,
senjatanya dibuat dari bambu, perisainya dibuat dari pelepa pinang atau
kulit batang pisang. Tarian ini jarang diadakan karena pembunuhan
jarang terjadi. Dengan kata-kata penari yang sedih dan menakutkan,
mereka maju mundur mengutuki si pembunuh yang kejam.
9. Tarian Ma’badong
Tarian
ini merupakan tarian kedukaan. Penari membuat lingkaran dengan pakaian
hitam atau berpakaian bebas. Berbagai jenis langkah dan lagu selalu
silih berganti selama penari pa’badong belum lelah. Tarian badong
berlangsung semalam suntuk, biasa dimulai dari jam sembilan malam sampai
jam tiga menjelang pagi. Orang bebas masuk turut ma’badong baik
laki-laki maupun perempuan. Orang-orang yang tidak memakai seni badong
akan segera bosan dengan irama yang kedengaran itu-itu saja, tapi orang
Toraja selalu tertarik mengikuti kata-kata badong karena mengingatkan
manusia yang selalu silih berganti, riwayat hidup dari orang yang
meninggal sejak manusia berada dalam kandungan ibu sampai akhir
hidupnya. Tidak semua upacara kematian mengadakan Ma’badong, hanya
upacara pemakaman yang lamanya tiga malam ke atas.
10. Tarian Ma’katia
Tarian
duka tradisional untuk menyambut tamu pada upacara pemakaman golongan
bangsawan. Penari berpakaian seragam dengan topi kepala (sa’pi’).
11. Tarian Pa’papangan
Tarian penjemputan tamu ditarikan oleh gadis-gadis berpakaian lengkap dan diiringi oleh suling dan Pa’marakka (lagu duka)
12. Tarian Ma’randing
Tarian
ini untuk mengatur dan menjemput pahlawan perang yang akan pergi
berperang atau yang baru tiba dari medan perang. Penarinya terdiri dari
2, 3, atau lebih laki-laki yang memakai perisai dan tanduk kuningan
dipakai diatas kepala. Pada waktu sekarang tarian ini dipakai pada
upacara pemakaman orang bangsawan untuk menyambut rombongan tamu.
13. Tarian Ma’dondi’
Ma’dondi
ini ditarikan pada upacara pemakaman orang mati, kata-kata dondi
seperti ma’badong tapi langsung lain iramanya. Anak-anak gembala sering
menghibur diri di atas punggung kerbau dengan lagu-laguma’dondi’.
14. Ma’parando
Kalau
orang meninggal dunia dalam umur lanjut dan sudah mempunyai cucu dua
lapis maka pada waktu upacara penguburannya, semua cucu perempuan
dinaikkan di atas bahu laki-laki dibawa keliling rumah tempat upacara
pemakaman diadakan. Gadis-gadis remaja ini berpakaian adat lengkap dan
diterangi obor pada malam hari.
Musik Toraja
1. Passuling
Semua
lagu-lagu hiburan duka dapat diikuti dengan suling toraja yang lain
dari suling yang dipergunakan anak-anak sekolah. Passuling ini dibawakan
oleh laki-laki untuk menyambut rombongan tamu pada upacara kedukaan
orang mati atau dapat pula dibunyikan untuk menghibur diri pada waktu
malam.
2. Pa’pelle’/ Pa’barrung
Musik
yang menarik minat anak-anak gembala menjelang padi di sawah menguning.
Alat musiknya dibuat dari batang padi dan daun pohon enau. Pa’barrung
ini merupakan musik khusus untuk pesta rumah adat.
3. Pa’pompang/Pa’bas
Alatnya
ialah suling bambu da bambu besar. Biasanya murid-murid sekolah secara
massal membawakan pada pesta perayaan hari nasional atau upacara adat
lainnya.
4. Pa’karombi
Alatnya kecil dengan benang halus diletakkan pada bibir dan tali disentak-sentak dan bunyi hiburan yang halus dapat didengar.
5. Pa’tulali
Bambu yang kecil dan halus dengan bunyi hiburan yang lumayan jadi hiburan.
6. Pa’keso’keso’
Gitar Toraja yang terbuat dari kayu dan tempurung kelapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar